Apa arti kata tembelek? Mengenal Istilah Kotoran Hewan dalam Masyarakat Jawa
Istilah tembelek pada masyarakat Jawa khususnya daerah Banyumas ialah berarti kotoran hewan. Sementara di masyarakat Jawa bagian Timur, dikenal sebagai telek. Tetapi walau begitu, tidak semua hewan kotorannya bisa dinamai tembelek atau telek. Hanya hewan jenis tertentu saja yang bisa dinamai tembelek/telek.
🐔 Kelompok Unggas (Tembelek/Telek)
Keluarga burung, yakni ayam, bebek, angsa, burung onta, pokoknya unggas apa saja boleh dinamai tembelek (Banyumas/Umum) atau telek (Jatim/Umum).
🐕 Kelompok Hewan Peliharaan Lain (Tai/Tahi)
Akan tetapi, hewan-hewan peliharaan yang tidak termasuk unggas, dan sejenisnya, semisal kucing atau anjing, maka kotorannya umumnya dinamai secara umum menggunakan bahasa Indonesia/Jawa-Indonesia, yaitu tai kucing atau tahi anjing.
🐐 Kelompok Hewan Ternak dengan Sebutan Khusus
Dan ada beberapa hewan ternak yang kotorannya dinamai khusus pula, seperti:
Kambing/Domba: Kotorannya dinamai cemendhil (berbentuk bulat kecil-kecil).
Kuda, Sapi, dan Kerbau: Kotorannya secara umum dinamai tlepong.
Di Jawa Timur (Jawa Wetan), istilah tlepong (atau terkadang disebut telethong) juga umum dan dipahami secara luas.
Khusus di wilayah yang terpengaruh bahasa Madura (misalnya di pesisir utara dan Pulau Madura), kotoran sapi dapat disebut calatthong (sering disingkat menjadi calathong atau thong) yang juga merujuk pada kotoran yang dikeringkan.
Kelelawar: Kotoran kelelawar, yang juga sering dimanfaatkan sebagai pupuk, dikenal dengan istilah guano (istilah umum) atau kadang juga disebut seri.
Ular: Kotoran ular sering disebut sebagai tai ula atau kadang disebut tembelek (jika merujuk pada bentuk kotoran hewan secara umum).
🌾 Fungsi dan Manfaat Kotoran Hewan dalam Masyarakat Jawa
Bagi masyarakat agraris seperti di Jawa, kotoran hewan bukan sekadar limbah, melainkan sumber daya penting yang dimanfaatkan secara turun-temurun, terutama sebagai penyubur tanah dan sumber energi.
1. Pupuk Organik (Rabuk)
Mayoritas kotoran hewan, terutama dari ternak, dimanfaatkan sebagai pupuk. Dalam bahasa Jawa, pupuk disebut rabuk.
Cemendhil (Kotoran Kambing/Domba): Karena bentuknya yang padat dan kering, mudah dikumpulkan, diproses, dan memiliki kandungan unsur hara yang tinggi. Ini adalah salah satu pupuk kandang yang paling umum digunakan.
Tlepong (Kotoran Sapi/Kerbau): Kotoran ini seringkali dicampur dengan sisa jerami atau sekam padi untuk diolah menjadi kompos sebelum diaplikasikan ke sawah atau ladang. Penggunaan pupuk organik seperti ini adalah bagian dari tradisi bertani yang berkelanjutan.
Tembelek/Telek (Kotoran Unggas): Kotoran ayam dan bebek sangat bagus untuk menyuburkan tanah dan seringkali langsung diaplikasikan, terutama untuk tanaman hortikultura.
2. Sumber Energi (Bahan Bakar)
Beberapa jenis kotoran hewan juga dimanfaatkan sebagai bahan bakar.
Kotoran Sapi (Tlepong) Kering: Di beberapa daerah pedesaan, kotoran sapi dikeringkan di bawah sinar matahari dan dibentuk menjadi semacam lempengan atau briket. Benda kering ini dikenal sebagai cethek atau ndhedhel dan digunakan sebagai bahan bakar pengganti kayu bakar untuk memasak di tungku (luweng).
Biogas: Dalam era modern, terutama melalui program pemerintah dan swadaya, kotoran sapi atau kerbau juga diolah dalam digester untuk menghasilkan biogas, yang kemudian dialirkan untuk menyalakan kompor gas rumah tangga.
Pemanfaatan kotoran hewan ini menunjukkan kearifan lokal masyarakat Jawa dalam mengelola sumber daya alam dan menjaga keseimbangan ekosistem pertanian mereka.

Posting Komentar untuk "Apa arti kata tembelek? Mengenal Istilah Kotoran Hewan dalam Masyarakat Jawa"
silahkan berkomentar